Rosululloh saw bersabda: ”Ajarkanlah, mudahkanlah, dan jangan menyulitkan. Berikan kabar gembira dan janganlah di takuti. Jika salah seorang sedang marah, maka diamlah” (HR. Bukhari)

Sabda nabi di atas memberikan pesan kuat kepada umat Rosululloh agar memperhatikan kaidah-kaidah dalam pendidikan anak dan da’wah. Kaidah pertama adalah agar kita senantiasa memperhatikan aspek intelektual anak. Kata ‘allimu yang bermakna ajarkanlah, mempertegas bahwa menu intelektual pada anak merupakan kelaziman yang harus di lakukan oleh orang tua. Karena pemahamen seorang anakterhadap agama nya akan melahirkan komitmen terhadap Islam dimasa remaja dan dewasa. Hal ini harus kita lakukan terhadap umat dalam Da’wah nya. Mencerdaskan umat secara intelektual akan menjauhkan mereka dari sikap taklid buta yang berbuah pada jatuhnya mereka terhadap ritual-ritual yang justru tidak ada landasan syar’inya.

Kaidah yang kedua adalah agar kita memudahkan dan jangan mempersulit dalam pembinaan anak dan da’wah. Karena tabiat dari Islam adalah Dinul Yusri (agama yang mudah). Alloh swt berfirman: “Alloh menghendaki dari kalian kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan.” (Al_Baqoroh [2]:185). Kaidah ketiga adalah Berilah kabar gembira dan jangan di takuti. Maksudnya adalah seoranganak di masa pertumbuhannya agar diberi motivasi dengan informasi-informasi yang membahagiakan dan mengembirakan dalm hidupnya di dunia dan akhiratnya. Karena ketika seorang anak yang masih labilcara berpikirnya ditakut-takuti dengan hal yang menyeramkan dalam Islam maka bisa jadi ia akan takut dengan Islam. Kaidah yang keempat adalah jangan emosional. Seorang ayah atau ibu hendaknya jangan terlalu mudah memarahi anaknya. Karena efeknya adalah anak akan menjadi sang penakut. Akan tetapi orangtua yang baik adalah orangtua yang mapu mengendalikan hawa nafsu dan amarahnya. Begitu juga dalam berda’wa ternyata Rosululloh mengedepankantampilan kematangan emosionalnya dengan wajah ceria di depan para sahabatnya. Sehingga pesona diri inilah yang menjadikanorang-orang non Islam tertarik kepada Islam karena pesona beliau.

====================================================

[ Kebeningan jiwa ]

Imam Ahmad pernah ditanya,

Apakah seseorang dapat disebut zuhud

Sedangkan ia memiliki seribu dinar?

Beliau menjawab,

“Ya, dengan syarat dia tidak bangga

Jika bertambah hartanya

dan tidak besedih ketika berkurang”

Imam Syufyan Ats-Tsauri pernah ditanya,

Apakah orang yang kaya

bisa menjadi orang yang zuhud?

Beliau menjawab, Ya, apabila hartanya

Bertambah dia bersyukur dan apabila berkurang

dia bersyukur dan sabar”

(Ibnu Qayyim, Madarijus Salikin)

Iklan